Oke, siap. Mari kita mulai kisah Dracin modern ini. **Kau Menatapku di Tengah Upacara, dan Mata Kita Berbicara Lebih Jujur dari Sumpah** Hujan merintik di kaca jendela kafe, memburamkan lampu-lampu kota yang berkedip-kedip seperti janji palsu. Aroma kopi pahit mengepul di udara, bercampur dengan aroma parfum lavender yang *dulu* begitu kukenal. Jari-jariku menari di atas layar ponsel, menyusuri percakapan lama. Ratusan pesan, *emoji* hati yang bertebaran, janji-janji manis yang kini terasa seperti pecahan kaca di tenggorokan. Dulu, dia adalah notifikasi yang selalu kunantikan. Setiap pesan darinya adalah *alarm* kebahagiaan, melenyapkan sepi yang selalu mengintai. Tapi kini, ponselku hanya berisi sisa-sisa chat yang tak terkirim, kata-kata yang mengendap menjadi ampas pahit di dasar hatiku. Aku ingat upacara itu. Pernikahan sahabatku. Aku berdiri di antara kerumunan, tersenyum hambar. Lalu, mataku bertemu dengan matanya. Di tengah hiruk pikuk sumpah sakral dan janji setia, mata kami berbicara. Lebih jujur dari kata-kata yang terucap. Mata yang penuh penyesalan, mata yang sarat kerinduan, mata yang... *hilang*. Kehilangan itu seperti kabut tebal yang menyelimuti kota ini. Aku bisa merasakan kehadirannya di setiap sudut jalan, di setiap melodi lagu yang terputar di radio, bahkan di aroma kopi yang sama di kafe ini. Mimpi-mimpi kami dulu seperti gelembung sabun yang indah, kini pecah dan menghilang tanpa jejak. Misteri hubungan kami yang belum selesai menggantung seperti pertanyaan yang tak terjawab. Kenapa dia pergi? Kenapa dia memilih dia? Kenapa aku, *selalu aku*, yang ditinggalkan? Lalu, rahasia itu terkuak. Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal. Sebuah foto yang dikirim secara anonim. Sebuah kebenaran yang menghantamku bagai gelombang tsunami. Dia… terikat. Terikat oleh hutang, oleh janji lama, oleh keluarga. Aku tersenyum pahit. Selama ini, aku menyalahkan diriku sendiri. Padahal, dia hanya pion dalam permainan yang lebih besar. **Waktunya balas dendam.** Bukan dengan amarah membabi buta. Bukan dengan kata-kata kasar yang menyakitkan. Tapi dengan *keanggunan*. Aku menulis sebuah pesan. Pesan terakhir. "Aku tahu semuanya. Dan aku mengerti. Tapi aku *tidak* memaafkanmu." Aku kirim. Lalu, aku bangkit dari kursi, membuang napas panjang. Kulihat bayanganku di kaca jendela. Mataku memancarkan kekuatan baru, kekuatan untuk melepaskan. Aku berjalan keluar dari kafe, menerobos hujan kota yang kini terasa lebih ringan. Di ujung jalan, aku berpapasan dengannya. Dia menatapku dengan tatapan memohon. Aku hanya tersenyum. Senyum terakhir. Senyum yang mengatakan segalanya tanpa kata. Kemudian, aku berbalik. Meninggalkannya. Meninggalkan semua kenangan. Meninggalkan semua *penyesalan*. Dan aku tidak pernah menoleh lagi. Dia tahu bahwa aku telah memutuskan. Bahwa permainan ini telah berakhir. Bahwa dia... telah kalah. *Dan keheningan adalah jawaban yang paling keras*.
You Might Also Like: Seru Sih Ini Langit Yang Menyaksikan
Post a Comment