Harus Baca! Aku Mencintaimu Bukan Karena Hidup, Tapi Meski Sudah Mati

Malam Abadi di Lembah Hantu

Kabut menggantung pekat di Lembah Hantu, senyap dan mencekam. Salju pertama tahun ini turun dengan kejam, mewarnai tanah dengan lapisan putih yang menyembunyikan jejak dosa. Di tengah lembah, berdiri Paviliun Anggrek yang angker. Dupa terbakar dalam sunyi, asapnya menari-nari seperti arwah penasaran, mengiringi isak tangis seorang wanita.

Li Hua, matanya sembab, menatap dingin pria di hadapannya. Pria itu, Gao Wei, terikat di kursi kayu tua, darah menetes dari luka cambuk di punggungnya, mengotori salju yang mencair di lantai. Dulu, Li Hua mencintai Gao Wei dengan segenap jiwa. Dulu…

"Kenapa?" bisik Li Hua, suaranya serak, hampir tak terdengar di antara derit angin. "KENAPA kau membunuh ayahku?"

Gao Wei tertawa hambar. "Cinta... Cinta membutakanmu, Li Hua. Ayahmu pantas mati. Dia... dia menghancurkan hidupku, keluargaku! Sekarang kita impas."

Impas?

Flashback menghantam Li Hua seperti gelombang pasang. Malam berdarah itu. Api yang membakar rumahnya. Wajah Ayahnya yang memohon ampun. Dan kata-kata terakhir pria yang menyelamatkannya, "Gao Wei... dialah dalangnya..."

KEBENARAN terungkap perlahan, menyakitkan seperti racun yang merambat dalam darah. Ternyata, cinta yang ia puja adalah tirai untuk menutupi kebusukan dendam. Gao Wei mendekatinya, mencintainya, hanya untuk menghancurkan keluarganya perlahan dari dalam.

"Kau salah, Gao Wei. Kau tidak tahu apa arti impas sebenarnya." Li Hua mengambil belati perak dari balik gaunnya. Cahaya bulan memantul di bilahnya, tajam dan dingin. "Ayahku hanya kehilangan nyawanya. Kau... akan kehilangan jauh lebih banyak."

Tangannya bergerak cepat. Bukan untuk membunuh Gao Wei. Melainkan, melukai dirinya sendiri.

Darah Li Hua menetes di salju, bercampur dengan darah Gao Wei. Rasa sakitnya memanggil arwah-arwah penasaran di lembah. Aroma dupa semakin menyengat.

"Aku bersumpah, di atas abu leluhurku, AKU AKAN MEMBALAS SEMUA DOSAMU, GAO WEI!" teriak Li Hua, air matanya membeku di pipi. "Kau akan hidup dalam penyesalan abadi, menyaksikan kehancuran orang-orang yang kau cintai. Kau akan memohon kematian, tapi kematian tak akan sudi menjemputmu."

Gao Wei meronta, mencoba melepaskan diri dari ikatan, namun percuma. Matanya memancarkan ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Li Hua tersenyum tipis, senyum seorang wanita yang telah kehilangan segalanya, senyum seorang iblis yang telah bangun dari tidur panjangnya.

"Aku memberimu kutukan ini, bukan sebagai Li Hua yang mencintaimu, tapi sebagai arwah yang akan menghantuimu selamanya."

Dengan satu gerakan anggun, Li Hua menghilang dalam kabut, meninggalkan Gao Wei yang terikat dan berdarah, terkutuk untuk hidup dalam siksaan abadi. Suara lolongan serigala memecah keheningan. Salju terus turun, menutupi jejak kaki Li Hua, tetapi tidak akan pernah bisa menutupi dosa Gao Wei.

BALAS DENDAM bukan soal membunuh. Balas dendam adalah ketika jiwa seseorang hancur berkeping-keping, bahkan setelah raga mereka masih bernapas.

Lalu, sebuah bisikan terdengar di telinga Gao Wei, lembut dan mematikan, "Kau tidak akan pernah aman, sayangku, karena..."

You Might Also Like: 61 Review Sunscreen Mineral Non Nano

OlderNewest

Post a Comment