Cerita Seru: Tangisan Yang Terlupakan Oleh Waktu

Tangisan yang Terlupakan oleh Waktu

(Judul dalam huruf Italic untuk kesan dramatis)

Sunyi. Malam di Lembah Bulan Pucat terasa lebih dingin dari biasanya. Aroma melati yang memabukkan tak mampu menghangatkan tulangku. Di hadapanku, berdiri Lian, saudara seperguruan, sahabat sejati… ataukah musuh yang menyamar? Matanya, sekelam malam, memantulkan api unggun yang menari-nari, menyembunyikan riak emosi yang tak terbaca.

"Lian," suaraku bergetar, "Kau tahu kenapa aku memintamu datang ke sini."

Dia tersenyum tipis, senyum yang dulu kurindukan, kini terasa seperti racun yang merayap di nadiku. "Tentu saja, Bai. Bukankah ini malam perhitungan? Malam di mana semua rahasia terungkap?"

Kami tumbuh bersama di Gunung Tian Shan. Berlatih pedang di bawah bimbingan Guru Agung. Bersumpah setia di bawah rembulan yang sama. Tapi di balik persahabatan itu, tersembunyi sebuah rahasia. Sebuah KEBENARAN yang mampu menghancurkan segalanya.

"Rahasia apa yang kau sembunyikan, Lian? Tentang malam pembantaian keluarga Bai?" Aku menatapnya tajam. Tatapanku tak goyah, meski hatiku remuk redam.

Lian tertawa. Tawa yang membuat bulu kudukku meremang. "Pembantaian? Oh, Bai, kau sungguh polos. Kau pikir aku tidak tahu siapa yang memerintahkannya?"

(Penekanan dengan huruf Italic untuk 'tidak tahu')

Dulu, aku mengira bahwa suku barbar dari utara yang bertanggung jawab atas kematian orang tuaku. Bahwa mereka haus darah dan menginginkan tanah kami. Tapi sekarang…

"Ayahmu, Bai," bisiknya, "Dialah yang mengkhianati klannya. Dia menjual rahasia Gunung Tian Shan kepada musuh. Demi kekuasaan, demi KEABADIAN."

(Penggunaan huruf besar untuk menekankan pentingnya 'KEABADIAN')

Aku terhuyung ke belakang. Kata-katanya seperti pukulan telak di ulu hatiku. "Itu… tidak mungkin. Ayahku adalah orang yang jujur!"

Lian menggeleng. "Kejujuran adalah topeng yang indah, Bai. Semua orang memakai topeng, termasuk kau." Kemudian, dia mengeluarkan sebilah belati berkilauan dari balik jubahnya. Belati itu… milik ayahku.

"Belati itu…," ujarku tercekat.

"Darah ayahmu masih menempel di sana, Bai. Tapi bukan suku barbar yang membunuhnya. AKU yang melakukannya."

(Penekanan dengan huruf besar dan Italic untuk mengakui perbuatan 'AKU')

Dunia di sekitarku berputar. Jadi, selama ini… Lian menyimpan dendam. Bukan dendam atas kematian keluargaku, tapi atas kehormatan klannya. Ayahku, pengkhianat. Dan dia, sang penegak keadilan.

"Kenapa?" tanyaku lirih.

"Karena aku berjanji kepada Guru Agung untuk melindungi Gunung Tian Shan. Janji yang HARUS ditepati, meski dengan darah!"

(Penekanan dengan huruf besar untuk menunjukkan bahwa janji itu 'HARUS')

Pertarungan pun tak terhindarkan. Pedang kami beradu di bawah rembulan yang dingin. Setiap tebasan, setiap desingan pedang, adalah ungkapan rasa sakit, pengkhianatan, dan dendam yang membara. Aku melawan dengan sekuat tenaga, bukan untuk menang, tapi untuk mencari kebenaran.

Akhirnya, pedang Lian menembus jantungku. Aku terjatuh ke tanah, merasakan darah hangat mengalir di dadaku.

"Kau… akan menyesal," desisku.

Lian berlutut di sampingku, wajahnya tanpa ekspresi. "Aku tidak menyesal apa pun, Bai. Hanya melakukan apa yang harus kulakukan."

(Penekanan dengan huruf Italic bahwa dia merasa ini adalah kewajibannya.)

Saat napasku tersengal-sengal, aku melihat sesuatu di mata Lian. Bukan kebencian, tapi… kesedihan. Kesedihan yang begitu dalam, hingga aku menyadari bahwa dia juga korban dari semua ini. Korban dari rahasia, pengkhianatan, dan takdir yang kejam.

Dengan sisa tenagaku, aku meraih tangannya. "Kau… juga… korban..."

(Penekanan dengan huruf Italic untuk menunjukkan bahwa Lian adalah 'korban')

Dan kemudian, semuanya menjadi gelap.

Aku berharap kau menemukan kedamaian, Lian, meski aku tak pernah bisa.

You Might Also Like: Supplier Skincare Tangan Pertama Bisnis

OlderNewest

Post a Comment