Cerpen Terbaru: Aku Menatap Wajahmu Di Majalah, Tapi Matamu Tetap Menyalahkanku

Aku Menatap Wajahmu di Majalah, Tapi Matamu Tetap Menyalahkanku

Aula keemasan itu berkilauan di bawah cahaya ribuan lilin. Suara gesekan sutra terdengar bagai desisan ular di balik tirai-tirai megah. Di tengah kemegahan yang mencekam ini, Kaisar Xuan berdiri, AGUNG dan dingin. Tangannya menggenggam majalah yang baru diterbitkan, tatapannya terpaku pada satu wajah di sana: Permaisuri Lian.

Di mata orang lain, Permaisuri Lian adalah lambang keanggunan dan kebajikan. Namun, di mata Kaisar Xuan, mata Lian yang terpampang di majalah itu seolah menyalahkannya. Dulu, mata itu memancarkan cinta yang membakar, sekarang hanya ada gurat dingin dan kekecewaan.

"Lian..." bisik Kaisar Xuan. Nama itu terasa pahit di lidahnya.

Dulu, mereka adalah dua jiwa yang saling mencintai di tengah intrik istana. Lian, seorang putri dari kerajaan taklukkan, dipaksa menikah dengan Kaisar Xuan sebagai bagian dari perjanjian damai. Awalnya, Xuan hanya melihatnya sebagai bidak politik. Namun, kecerdasan, keberanian, dan kelembutan Lian perlahan menaklukkan hatinya. Mereka berbagi rahasia, impian, dan ciuman curian di taman terlarang.

Tapi cinta mereka tumbuh di tanah yang penuh racun. Para pejabat istana, haus akan kekuasaan, terus-menerus berusaha memisahkan mereka. Bisikan pengkhianatan, intrik politik, dan fitnah meracuni hubungan mereka. Kaisar Xuan, terbebani oleh tanggung jawab dan ambisinya, membuat keputusan yang mengubah segalanya. Ia memilih kekuasaan di atas cinta. Ia mengkhianati kepercayaan Lian untuk mengamankan takhtanya.

Lian terluka. KEPERCAYAANNYA hancur berkeping-keping. Ia menarik diri, menjadi sosok yang dingin dan jauh. Namun, di balik ketenangannya, api balas dendam membara. Ia mulai memainkan permainan takhta sendiri, menggunakan kecerdasannya untuk memanipulasi para pejabat, menyebarkan desas-desus, dan menabur benih ketidakpuasan di antara rakyat.

Kaisar Xuan menyadari perubahan pada diri Lian. Ia melihat tatapan tajam yang tersembunyi di balik senyum manisnya. Ia tahu bahwa Lian sedang merencanakan sesuatu, tapi ia tidak tahu seberapa dalam dan mematikan rencana itu.

Malam itu, saat Kaisar Xuan meminum teh yang disajikan Lian, ia merasakan sakit yang membakar di dadanya. Ia menatap Lian, matanya penuh dengan kengerian dan penyesalan.

Lian tersenyum. Senyum yang indah, tapi dingin seperti es.

"Anda memilih takhta, Kaisar. Sekarang, nikmatilah," bisiknya.

Kaisar Xuan jatuh ke lantai, napasnya terengah-engah. Ia melihat Lian mendekat, wajahnya bersinar dalam cahaya lilin. Di tangannya, ia melihat belati perak yang berkilauan.

"Aku mencintaimu, Xuan," bisik Lian, lalu menusuk belati itu ke jantung Kaisar.

Kaisar Xuan menghembuskan napas terakhirnya. Aula keemasan itu terasa sunyi senyap, hanya terdengar suara napas Lian yang teratur. Ia berdiri di atas mayat Kaisar, matanya memancarkan kemenangan dan balas dendam.

Ia membersihkan darah dari belati itu dengan kain sutra, lalu berbalik, meninggalkan aula yang dipenuhi dengan mayat dan rahasia. Ia berjalan menuju takhta, siap untuk menulis ulang sejarah, dengan cara yang baru.

Dan takhta itu menanti, tidak lagi untuk seorang Kaisar, melainkan untuk seorang Permaisuri yang dendamnya baru saja dimulai…

You Might Also Like: 182 Conversion Chart Ounces To Cups How

Post a Comment