Tangisan yang Menyembunyikan Namamu
Kabut lavender menyelimuti kota Wuzhen, aroma teh melati menyeruak dari setiap sudut jalan. Di sana, di antara hiruk pikuk turis, berdiri seorang gadis bernama Lin Yue. Matanya, sekelam malam, selalu menatap kejauhan, seolah mencari sesuatu yang hilang. Ia seorang penulis novel romansa, namun hatinya sendiri terasa seperti naskah yang belum selesai, penuh coretan dan revisi yang tak kunjung usai.
Suatu malam, saat gerhana bulan merah, Lin Yue bermimpi. Ia melihat dirinya, bukan sebagai Lin Yue, tapi sebagai Putri Mei Hua dari Dinasti Tang. Ia dikelilingi sutra merah dan emas, diiringi alunan guzheng yang mendayu-dayu. Namun, mimpi itu berubah menjadi mimpi buruk. Ia melihat pengkhianatan, mata penuh nafsu, dan pisau yang berkilauan di bawah cahaya bulan. DARAH membasahi gaunnya, dan bisikan "Maafkan aku, Mei Hua" terngiang sebelum semuanya gelap.
Setiap malam, mimpi itu datang. Semakin jelas, semakin detail. Ia ingat nama-nama, aroma dupa, bahkan tekstur sutra yang menempel di kulitnya. Ia mulai menggambar sketsa wajah-wajah dari mimpinya, menyusun puzzle ingatan yang tercecer. Salah satu wajah itu... wajah seorang pria dengan senyum menawan dan mata setajam elang... Xiao Jun.
Di dunia nyata, Xiao Jun adalah CEO muda sebuah perusahaan teknologi, berwajah tampan dan penuh pesona. Ia sering bertemu Lin Yue dalam acara-acara sastra, bahkan beberapa kali mengajaknya makan malam. Ada sesuatu yang familiar dalam tatapannya, namun Lin Yue selalu menepisnya. Sampai mimpinya menjadi terlalu nyata untuk diabaikan.
Ia mulai menyelidiki sejarah Dinasti Tang, mencari catatan tentang Putri Mei Hua dan pengkhianatan yang menimpanya. Ia menemukan semuanya. Xiao Jun, dalam kehidupan sebelumnya, adalah pengawal pribadi Putri Mei Hua, yang terpikat oleh kekuasaan dan mengkhianatinya demi mendapatkan tahta. PENGKHIANATAN.
Lin Yue tidak menginginkan balas dendam yang berdarah. Ia tidak ingin mengotori tangannya dengan dendam yang sudah berusia ribuan tahun. Ia memilih cara yang lebih halus, lebih menyakitkan.
Suatu hari, Xiao Jun menawarkan Lin Yue untuk menulis biografinya. Kesempatan emas untuk mendekatinya, untuk memahami lebih dalam. Lin Yue menerima. Ia menulis dengan jujur, dengan kejam. Ia mengungkap ambisi tersembunyi, kelemahan, dan kegelapan yang ada dalam diri Xiao Jun. Ia menulis tentang dirinya, tentang Putri Mei Hua, tentang pengkhianatan yang menghancurkan hidupnya.
Biografi itu menjadi BESTSELLER. Reputasi Xiao Jun hancur berantakan. Ia kehilangan kekuasaan, pengaruh, bahkan rasa hormat dari orang-orang di sekitarnya. Ia terpuruk. Lin Yue mengawasinya dari kejauhan, tanpa senyum, tanpa air mata. Keadilan telah ditegakkan, bukan dengan darah, tapi dengan kata-kata.
Di puncak kesuksesannya, Lin Yue memutuskan untuk pindah. Ia meninggalkan Wuzhen, meninggalkan kenangan tentang Putri Mei Hua, dan meninggalkan Xiao Jun dalam kehancurannya. Sebelum pergi, ia mengirimkan sebuah surat kepada Xiao Jun, hanya berisi satu kalimat:
"Di kehidupan selanjutnya, mungkin kita akan bertemu lagi, dan kali ini, aku yang akan memilih takdirmu..."
You Might Also Like: 0895403292432 Produk Skincare No
Post a Comment