Drama Baru! Takdir Yang Menyerah Di Tangan Cinta

Di tengah hamparan bunga sakura yang berguguran, di bawah langit senja yang merona jingga, Li Wei berdiri mematung. Angin berbisik lirih, membawa aroma manis yang menusuk kalbu, mengingatkannya pada kenangan yang seharusnya sudah lama terkubur. Dulu, tempat ini adalah saksi bisu janji suci antara dirinya dan Mei Lan. Dulu, di bawah pohon sakura inilah, mereka berjanji untuk saling menjaga, untuk bersama menua, untuk tak pernah melepaskan.

Namun, janji hanyalah janji.

Delapan tahun telah berlalu sejak Mei Lan meninggalkannya. Bukan pergi ke negeri asing, bukan karena cinta yang memudar, melainkan kematian yang kejam merebutnya. Kematian yang disebabkan oleh tangan-tangan kotor yang haus kekuasaan, tangan-tangan yang kini justru ia jamu di pesta perayaan kesuksesannya.

Ia menatap gelas anggur merah di tangannya. Warnanya sama pekat dengan darah yang dulu membasahi gaun putih Mei Lan. Rasa pahitnya sama dengan penyesalan yang menggerogoti hatinya setiap malam.

"Li Wei, kau terlihat melamun," suara berat dari belakangnya memecah keheningan. Itu adalah Paman Chen, salah satu dalang di balik kematian Mei Lan, kini berdiri di sampingnya, tersenyum penuh kemenangan. Senyum yang membuat perut Li Wei mual.

"Hanya sedikit lelah, Paman Chen," jawab Li Wei, suaranya datar, tanpa emosi. Matanya menatap lurus ke arah pohon sakura, seolah bisa melihat bayangan Mei Lan di sana.

"Ah, anak muda memang harus bersemangat! Kesuksesan ada di depan mata, jangan sampai disia-siakan!" Paman Chen menepuk bahu Li Wei dengan kasar.

Li Wei memaksakan senyum. "Tentu, Paman. Semua ini berkat dukungan Paman."

Malam itu, pesta berlangsung meriah. Musik berdentum kencang, tawa menggema di mana-mana. Namun, bagi Li Wei, semuanya terasa hambar. Ia melihat wajah-wajah yang dulu merenggut kebahagiaannya, wajah-wajah yang kini tersenyum puas atas penderitaannya.

Ia mengangkat gelas anggurnya tinggi-tinggi. "Untuk kesuksesan kita semua!" serunya lantang. Semua mata tertuju padanya. Mereka mengangkat gelas masing-masing, menyambut seruannya.

Li Wei menatap Paman Chen. Matanya bertemu. Untuk sesaat, ia melihat keraguan di mata tua itu. Keraguan yang ia abaikan.

" SALUD!"

Beberapa jam kemudian, Paman Chen ditemukan tergeletak di taman belakang, di bawah pohon sakura yang sama. Anggur merah tumpah membasahi kemejanya. Racun mematikan. Tidak ada yang tahu bagaimana racun itu bisa masuk ke dalam minumannya. Kecelakaan, kata mereka.

Li Wei berdiri di balkon, menatap jasad Paman Chen yang diangkat ke dalam ambulans. Bulan bersinar terang di atas sana, seolah menjadi saksi bisu dari keadilan yang telah ditegakkan. Angin kembali berbisik, kali ini terdengar seperti bisikan Mei Lan, mengucapkan terima kasih.

Bukan Li Wei yang membalas dendam. TAKDIR yang menuntut keadilan.

Mungkin cinta dan dendam memang tidak bisa dipisahkan, seperti dua sisi mata uang, yang selalu hadir bersama, selamanya... ATAU TIDAK?

You Might Also Like: Addison Rae Height Gallery Of Images

Post a Comment