Debu keemasan menari di antara pilar-pilar istana, senada dengan gaun sutra merah darah yang dikenakan Mei Lan. Di hadapannya, berdiri Jenderal Kaisar, Lin Wei, sosok yang dulu memenuhi mimpinya dengan janji-janji bintang. Dulu.
"Kau cantik, Mei Lan," bisik Lin Wei, suaranya serak, seperti tergerus badai. Matanya, mata yang dulu hanya menyimpan pantulan cintanya, kini redup oleh beban kekuasaan.
Mei Lan tersenyum, senyum tipis yang tidak mencapai matanya. "Terima kasih, Kaisar. Pujian dari seorang Raja selalu terdengar manis."
Dulu, pujiannya akan membuat jantung Mei Lan berdebar. Dulu, panggilan "Kaisar" terasa begitu asing di bibirnya. Dulu, sebelum tahta menjadi jurang yang memisahkan mereka.
Lin Wei melangkah mendekat, tangannya terangkat ragu. "Mei Lan, kumohon...mengertilah. Aku... aku harus melakukan ini. Untuk negara."
Mei Lan tertawa hampa, suara yang lebih mirip pecahan kristal. "Untuk negara? Ataukah untuk ambisimu sendiri, Jenderal Kaisar?"
Dulu, mereka berjanji di bawah pohon plum yang sedang mekar. Janji untuk selalu bersama, janji untuk saling mencintai, janji untuk membangun istana dari kebahagiaan. Janji-janji yang sekarang hanyalah serpihan ingatan yang menyayat kalbu.
"Aku mencintaimu, Mei Lan. Dulu, sekarang, dan mungkin... selamanya," ucap Lin Wei, lirih.
Kata-kata itu seperti racun yang merayapi pembuluh darah Mei Lan. Cinta? Cinta macam apa yang menodai janji dengan kekuasaan? Cinta macam apa yang memilih tahta di atas kebahagiaan sejati?
"Cinta? Kata yang indah, bukan? Sama indahnya dengan dusta," jawab Mei Lan, suaranya bergetar menahan amarah. "Kau memilih tahta, Lin Wei. Kau memilih kekuasaan. Dan aku... aku memilih luka. Luka yang akan abadi seperti kerajaanmu."
Lin Wei terdiam, matanya memancarkan penyesalan yang mendalam. Terlambat. Semuanya sudah terlambat.
Beberapa tahun kemudian, kerajaan Lin Wei makmur dan disegani. Namun, kebahagiaan tidak pernah mampir di istana. Kaisar Lin Wei memerintah dengan tangan besi, dihantui bayangan mata Mei Lan yang penuh kekecewaan.
Pada hari perayaan ulang tahun kerajaan, secarik kain sutra berwarna hitam legam ditemukan di kamar Kaisar. Di atasnya, terukir kata-kata sederhana namun mematikan: "Pohon plum telah layu."
Tidak ada yang tahu siapa yang mengirimkannya. Tidak ada yang tahu bagaimana bisa menyelinap ke kamar Kaisar yang dijaga ketat. Yang jelas, Kaisar Lin Wei ditemukan meninggal dunia beberapa hari kemudian, dalam tidurnya. Wajahnya tenang, seolah beban penyesalan akhirnya terlepas.
Keadilan datang dalam sunyi, seperti bayangan yang menari di balik tirai malam. Bukan aku yang membalas dendam, Lin Wei. Itu adalah TAKDIR.
Dan di antara cinta dan dendam, hanya kenangan yang tersisa, berbisik bahwa kebahagiaan yang hilang tidak akan pernah bisa digantikan.
You Might Also Like: Manfaat Sunscreen Mineral Dengan
Post a Comment