**Surat Itu Membakar Perjanjian Damai, Dan Bersama Abu Itu, Namaku Hilang Dari Ingatanmu** Hujan gerimis menari di atas genting paviliun bambu. Di dalam, aroma dupa sandalwood bercampur dengan bau tinta yang menguar dari gulungan bambu di meja. Li Wei, dengan gaun sutra lilac yang dulu sangat disukainya, menatap api unggun kecil di depannya. Api itu memeluk erat selembar kertas usang, kertas yang dulu menjadi janji suci di antara dia dan Jenderal Zhao, cinta yang terlambat bersemi di tengah gurun pasir peperangan. Dulu, di bawah langit senja yang merah membara, Zhao bersumpah akan meletakkan pedangnya demi dirinya. "Wei'er," bisiknya, suaranya serak karena debu dan kelelahan, "Demi senyummu, aku akan menandatangani perjanjian damai ini. Demi kau, aku akan menjadi orang biasa, bukan lagi jenderal yang haus darah." Surat di tangannya, yang kini perlahan berubah menjadi abu, adalah salinan perjanjian itu. Ditulis dengan tinta darah oleh tangannya sendiri, ditandatangani dengan cap Jenderal Zhao yang sakral. Janji yang dipertaruhkan nyawa ribuan orang, janji yang dikhianati untuk ambisi dan kekuasaan. Zhao memilih tahta, bukan dirinya. Zhao memilih gelar kaisar, bukan kehangatan dekapan mereka berdua. Zhao *MENGKHIANATI* segalanya. Air mata Li Wei tidak jatuh. Matanya sekeras batu giok yang terendam es. Ia ingat malam itu, ketika kurir diam-diam menyelipkan gulungan bambu itu ke tangannya. Isinya, titah kaisar Zhao untuk membunuh seluruh keluarganya – para jenderal setia yang menolak mengakui legitimasi kekuasaannya. Penghianatan yang melampaui batas kemanusiaan. Dengan gerakan anggun, Li Wei memasukkan beberapa batang kayu cendana ke dalam api. Aroma yang tadinya menenangkan, kini berbau kematian. Ia teringat senyuman terakhir ibunya, bisikan lirih ayahnya, jeritan adiknya yang belum genap sepuluh tahun. Semua itu, karena ambisi Zhao yang ***GILA***. "Kau telah menghapus namaku dari hatimu, Zhao. Kau pikir aku akan membiarkannya?" bisiknya pada bayangan api yang menari-nari. "Kau pikir takdir akan membiarkanmu tertawa di atas abu keluargaku?" Jari-jari Li Wei mengusap cincin batu akik di jarinya, cincin yang dulunya dihadiahkan Zhao sebagai tanda cinta abadi. Di dalam cincin itu, tersembunyi racun yang sangat mematikan, racun yang akan perlahan-lahan merusak tubuh Zhao, membawanya pada kematian yang menyakitkan dan tak terdeteksi. Racun yang diracik oleh tabib istana yang setia pada keluarganya, tabib yang telah mengorbankan dirinya untuk membalas dendam. Li Wei bangkit berdiri, angin malam menyibak rambutnya yang hitam legam. Ia tahu, ia tidak akan hidup lama setelah ini. Pelayan Zhao pasti akan menemukannya. Tapi ia tidak peduli. Ia telah melakukan tugasnya. Balas dendam telah ditegakkan. Malam semakin larut. Hujan semakin deras. Di kejauhan, terdengar lolongan serigala, seolah meratapi nasib dua jiwa yang terjerat dalam benang merah cinta dan dendam. Takdir telah memutuskan, **bukan**?
You Might Also Like: Interpretasi Mimpi Dicakar Capung
Post a Comment