Cerpen: Janji Yang Hilang Dalam Cahaya

Mentari senja membelai Danau Xihu, memantulkan rona keemasan pada gaun sutra Luna. Ia berdiri di sana, anggun bak lukisan, namun matanya menyimpan badai yang tak terucapkan. Di hadapannya, berdiri Jian, pria yang dulunya adalah dunianya, kini hanyalah siluet asing di tengah cahaya senja.

Dulu, Jian memberinya janji di bawah rembulan purnama, janji seindah puisi Li Bai. Janji tentang keabadian, kesetiaan, dan cinta yang tak lekang waktu. Namun, janji itu kini hanyalah debu yang beterbangan, hilang bersama angin pengkhianatan.

Luna ingat senyum Jian, senyum yang dulu membuatnya terpesona, kini terasa begitu MENIPU. Ia ingat pelukan Jian, pelukan yang dulu memberinya kehangatan, kini terasa BERACUN. Ia ingat janji Jian, janji yang dulu diukir dalam hatinya, kini berubah menjadi BELATI yang menusuk jiwanya.

"Luna..." Suara Jian terdengar bergetar, namun Luna tetap tenang. Topeng ketenangan yang ia kenakan terasa begitu berat, menutupi lautan luka di dalamnya. Ia tidak menangis, tidak berteriak. Ia hanya tersenyum tipis, senyum yang lebih dingin dari es di musim dingin.

"Jian," balas Luna, suaranya setenang danau yang tenang sebelum badai. "Kau tahu, kau telah mengambil segalanya dariku. Harga diriku, kepercayaanku, dan hatiku."

Jian mencoba meraih tangannya, namun Luna menghindar. Ia tahu, sentuhan Jian kini hanya akan membakar hatinya dengan amarah. "Aku..."

"Jangan. Jangan mencoba menjelaskan apapun," Luna memotong perkataan Jian. "Kata-katamu sudah tak berarti lagi. Yang tersisa hanyalah PENYESALAN yang akan menghantuimu selamanya."

Luna melangkah pergi, meninggalkan Jian terpaku di tempatnya. Ia tahu, balas dendamnya tidak akan berupa darah atau air mata. Ia akan mengambil apa yang paling berharga bagi Jian: reputasinya, kekayaannya, dan kedudukannya. Dengan strategi yang cermat dan ketenangan yang mematikan, ia akan menghancurkan kerajaan Jian dari dalam, tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Beberapa tahun kemudian, Luna berdiri di balkon apartemen mewahnya, menatap kota Shanghai yang gemerlap. Di tangannya, tergenggam cangkir teh yang mengepulkan aroma melati yang menenangkan. Berita tentang kebangkrutan Jian sampai padanya seperti angin sepoi-sepoi. Ia merasakan kepuasan yang pahit. Ia telah membalas dendamnya, NAMUN luka di hatinya tetap membekas.

Ia tahu, kemenangan ini terasa hampa. Ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan, TAPI ia kehilangan sesuatu yang tak ternilai harganya: kepercayaan pada cinta.

Luna menghela napas panjang. Ia menyadari sesuatu yang mengerikan, sesuatu yang selama ini ia coba abaikan.

Cinta dan dendam lahir dari tempat yang sama…

You Might Also Like: 124 Cara Sunscreen Lokal Ringan Tidak

Post a Comment