Dracin Seru: Pedang Yang Mengenali Luka Lama

**Pedang yang Mengenali Luka Lama** Desir angin di Bukit Seribu Bayangan membawa aroma melati dan darah. Di sanalah, di bawah naungan pohon sakura yang selalu mekar, kami tumbuh. Aku, Li Wei, dan dia, Zhang Hao. Kami bersumpah darah di sana, **BERSAUDARA**. Matahari terbit dan tenggelam menyaksikan kami berlatih pedang. Zhang Hao, dengan senyum menawan dan gerakan secepat kilat, selalu selangkah lebih maju. Aku, dengan ketekunan dan amarah yang terpendam, tak pernah menyerah. Persaingan kami adalah bahan bakar persahabatan kami, atau begitulah yang kupercaya. "Li Wei, kau terlalu lambat. Hatimu terlalu berat," seringkali dia berkata, bibirnya melengkung mengejek. Tapi matanya berbinar penuh arti. Aku membalas, "Hao, kau terlalu ceroboh. Kesombongan akan menjatuhkanmu." Kata-kata kami, seperti pisau yang diasah terus-menerus, tajam dan berbahaya. Kami menjadi panglima perang, dielu-elukan rakyat. Kekuatan kami menyatukan wilayah yang terpecah belah. Namun, di balik kemegahan istana, *BISIKAN* mulai terdengar. Pengkhianatan merayap seperti ular berbisa. Kekacauan muncul di setiap sudut. "Siapa?" tanyaku pada Zhang Hao, suaraku berat. Dia hanya tersenyum. "Kekuatan yang berlebihan selalu mengundang iri, Li Wei. Kita harus *MELINDUNGI* apa yang kita miliki." Tapi matanya… matanya menyimpan rahasia. Suatu malam, serangan mendadak menghancurkan benteng kami. Pasukan elit, yang seharusnya setia, berbalik menyerang. Di tengah kekacauan, aku melihatnya. Zhang Hao, berdiri di bawah panji musuh, PEDANGNYA BERLUMURAN DARAH. "Mengapa, Hao? MENGAPA?!" teriakku, suara serak karena pengkhianatan. Senyumnya hilang, digantikan kesedihan yang dalam. "Kau tak mengerti, Li Wei. Kau tak pernah mengerti." *Misteri* itu perlahan terkuak. Ibuku, wanita yang kuhormati, wanita yang kurindukan, adalah putri dari klan yang dibantai habis oleh ayah Zhang Hao. Sumpah darah kami… adalah lelucon keji. Zhang Hao, sejak awal, ditugaskan untuk membalaskan dendam klannya. Aku adalah target utama. "Kau seharusnya mati bertahun-tahun yang lalu, Li Wei. Tapi aku… aku tak bisa." Air mata mengalir di pipinya. "Kau *SAUDARAKU*." Pertempuran kami berlangsung sengit. Pedang kami berdenting, menggema di lembah yang sunyi. Setiap gerakan adalah pengakuan, setiap tebasan adalah penyesalan. Pada akhirnya, pedangku menembus dadanya. Dia terhuyung, darah membasahi jubahnya. "Kau… akhirnya… mengenali… luka… lama…" Aku menatapnya, tak mampu berkata apa pun. **BALAS DENDAM** telah ditegakkan. Kebenaran telah terungkap. Tapi aku… aku merasa lebih hancur dari sebelumnya. *“Akhirnya, aku mengerti, beban ini… lebih berat dari kematian…”*
You Might Also Like: Agen Skincare Supplier Skincare Tangan

Post a Comment